Karya Jurnalistik Siswa-Siswi SMA Negeri 1 Ambon

Pemanfaatan Teknologi Informasi Untuk Pengembangan Kreatifitas Pelajar Di Bidang Jurnalistik.

Indahnya Kota Ambon

Pemandangan Yang Menakjubkan Dari Lokasi Taman Christina Martha Tiahahu (Karang Panjang) Saat Matahari Terbenam.

Keindahan Alam Dan Potensi Pariwisata

The Ora - Eco Resort. Berlokasi Di Antara Negeri Sawai Dan Saleman, Pantai Ora Dengan Sejuta Keindahannya.

Panorama Alam Dan Keramah Tamahan Yang Selalu Memikat

Pemandangan Saat Mentari Terbenam Di Penginapan Atas Laut Negeri Sawai - Seram Utara.

World Peace Gong

Terletak Di Pusat Kota Ambon, World Peace Gong Menjadi Simbol Perdamaian Dunia.

Wikipedia

Search results

Wednesday, April 15, 2015

ASAL MULA NAMA NEGERI HARUKU


ASAL MULA NAMA
NEGERI HARUKU
 
Di bagian selatan Pulau Seram terdapat sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu pulau dalam gugus kepulauan Lease, yang terdiri dari pulau Haruku, pulau Saparua, dan pulau Nusa Laut. Pulau kecil tersebut adalah pulau Haruku yang secara administrative berada dalam wilayah Kecamatan Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.  
Konon, Pulau Haruku dikenal juga dengan nama Nusa Ama yang artinya Pulau  Bapak (Nusa – pulau dan Ama = bapak). Pulau Haruku terbagi atas dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Bagian utara pulau Haruku terdiri dari negeri Ruhumoni, Kabau, Kailolo, Pelau, Kariu dan Hulaliu, dan dikenal dengan sebutan HATUHAHA, yang artinya atas batu dan dikenal juga sebagai ULI HATUHAHA.   Bagian selatan bernama HATULOLU, (bawah batu atau bagian bawah), atau juga dikenal dengan sebutan ULI BUANGBESI yang didiami oleh lima negeri yakni  Negeri Haruku, Samet, Oma, Wasu, dan Aboru.
Pada masa lampau di bagian pegunungan Negeri Haruku dihuni oleh lima Aman (Negeri) yang tinggal berpisah-pisah, yaitu Aman Thuomoi, Aman Huin, Aman Heratu, Aman Hendatu, dan Aman Muei. Dari kelima Aman tersebut, Aman yang pertama kali di bentuk yaitu Aman Thoumoi. setelah Aman ini di bentuk munculah Aman-aman lain. Pada saat itu sering terjadi perang baik diantara desa-desa yang ada di pulau Haruku maupun diantara Uli Hatuhaha dan Uli Hotulolu atau Uli Luangbesi. Penduduk di pulau itu berperang untuk mempertahankan batas-batas petuanan mereka dan juga untuk memperluas daerah kekuasaan.  Oleh karena peperangan yang sering terjadi maka penduduk di ke lima Aman ini, ingin untuk menjadi satu. Mereka sering mengadakan pertemuan untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi dan untuk menyusun strategi perang dalam menghadapi musuh. Tujuan mereka adalah untuk memperkuat pertahanan mereka dan untuk menguasi/merperluas daerah kekuasaan. Pertemuan selalu dilakukan di Aman Huin, dan pada satu pertemuan akhirnya mereka sepakat dan mengambil keputusan untuk bergabung menjadi satu Negeri yang di sebut Negeri Lama. Namun pada masa itu mereka masih berada di hutan dan hanya memperluas wilayah Negeri di hutan. Ketika kelima Aman ini bersatu, pertahanan mereka menjadi kuat dan daerah kekuasaan mereka pun semakin luas dan mereka bisa hidup dengan lebih tenang di pegunungan diantara desa Haruku yang sekarang dan Desa Oma.
Pola hidup penduduk di Negeri Lama sangat sederhana. Sehari-hari para wanita melakukan tugasnya didalam rumah seperti membersihkan rumah, menyiapkan makanan untuk seisi rumah, merawat dan mengajar anak-anak. Selain itu mereka juga melakukan aktifitas di luar rumah disekitar perkampungan, yaitu mencuci pakaian di sungai, mencari/mengambil sayur-sayuran. Sedangkan laki-laki selalu bekerja keluar dari perkampungan, yaitu mereka harus berburu, bercocok tanam, harus mencari ikan di laut, dan mereka harus mengambil air di laut untuk kebutuhan masak dan lain-lain.
Pola makan penduduk Negeri Lama sangat sederhana. Makanan pokok mereka sebagai sumber energi adalah sagu, yang biasanya mereka olah menjadi papeda, sagu bakar, dan sagu kering (sagu bakar yang dijemur sampai kering). Sagu kering dibuat sebagai persediaan makanan di musim hujan. Selain sagu mereka juga menanam  kasbi (singkong), petatas (batatas/ubi), dan keladi sebagai sumber energi seisi rumah. Umbi-umbian ini biasanya direbus. Sebagai sumber protein. para lelaki biasanya berburu binatang di hutan, atau mencari ikan di laut dan hasil laut lainnya di tepi pantai.  Beberapa hari dalam seminggu mereka harus turun dari gunung untuk mengambil air laut di pantai sebagai bahan untuk merebus Patatas (Keladi), Kasbi (Singkong) dan untuk kebutuhan  memasak karena belum ada garam sebagai bahan penyedap makanan. Selain mengambil air laut untuk bahan masak, mereka juga sering bameti (mencari ikan atau siput dll di pantai)  dan mangael (mengail ikan di laut).
Pada suatu hari beberapa orang lelaki dari Negeri Lama turun ke pantai untuk mencari ikan, mengambil air, dan bameti. Ketika mereka tiba di pantai, mereka melihat ada sebuah kapal yang sangat besar dan sangat mewah yang sedang berlabuh. Ini pertama kalinya merka melihat kapal yang besar sehingga membuat mereka terkejut dan pandangan mereka tidak hilang sedikitpun dari kapal tersebut. Namun ada hal lain yang membuat mereka tertarik dan memindahkan pandangan mereka dari kapal mewah tersebut. Di tengah lautan, di dekat pelabuhan tempat kapal berlabuh, ada sekoci yang sedang bergerak menuju ke pantai dan di dalamnya terdapat beberapa lelaki. Para lelaki dari Negeri Lama ini terus memperhatikan orang-orang yang berada di atas sekoci tersebut. Mereka terus memperhatikan penumpang dalam sekoci itu dan merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda antara mereka dengan orang-orang itu. Mereka terus memandang dan mencari tahu apa perbedaan di antara mereka sampai akhirnya mereka menemukan perbedaan tersebut yaitu perbedaan fisik yang sangat mencolok. Mereka melihat ke orang-orang tersebut dan sekali-kali melirik ke tubuh mereka, dan ternyata banyak hal yang berbeda dengan orang-orang tersebut. Pertama, mereka mengangkat tangan mereka dan melihat dari kejauham warna kulit orang-orang tersebut, warna kulit mereka sangatlah putih dan jauh berbeda dengan warna kulit para lelaki dari Negeri Lama.  Setelah menemukan bahwa warna kulit berbeda, mereka menemukan lagi yang berbeda yaitu hidung, hidung orang-orang tersebut terlihat lebih mancung dan tajam, warna mata mereka berbeda dan yang terakhir yaitu postur tubuh mereka yang sangat berbeda dengan postur tubuh lelaki dari Negeri Lama. Ternyata orang-orang asing yang sedang berlayar ke daratan adalah orang-orang dari Portugis, yang datang untuk mencari rempah-rempah di Maluku.


Para penumpang sekoci melihat ada orang di pantai dan mereka berpikir bahwa pasti ada perkampungan di sekitar daerah tersebut. Orang-orang Portogis ini sangat senang, akan tetapi sebaliknya, penduduk asli dari Negeri Lama ini menjadi takut melihat orang –orang asing ini.  Ketika orang Portugis semakin mendekat, para lelaki dari Negeri Lama semakin takut dan memutuskan untuk lari dari orang Portugis tersebut. Namun ketika sampai di daratan, orang Portugis lalu mengejar lelaki dari Negeri Lama. Sampai pada akhirnya salah satu dari mereka tidak dapat berlari lagi, ia memanjat salah satu pohon yang ada di tepi pantai. Orang Portugis ini lalu mendekatinya dan mencoba untuk berinteraksi dengannya, namun lelaki dari Negeri Lama ini merasa takut dan terus memanjat pohon hingga sampai di ujungnya. Orang Portugis ini pun berteriak dan bertanya kepada lelaki dari Negeri Lama apa nama Negeri yang sekarang ia injak ini. Lelaki di atas pohon ini tidak mengerti bahasa Portugis, dia berpikir orang Portugis ini bertanya tentang pohon yang ia naiki itu bernama apa. Dengan nada suara yang gemetar seperti seorang pembantu yang sangat takut ketika di marahi oleh majikannya, lelaki ini menjawab “HARU-UKUI” yang artinya”UJUNG POHON BARU (HARU = pohon baru/waru, UKUI = ujung).
Orang Portugis ini mengambil kesimpulan bahwa nama negeri ini adalah HARU-UKUI, dan sejak saat itu nama Negeri Lama dikenal dengan nama HARU – UKUI. Kemudian dalam perjalanan kehidupan penduduk Negeri Lama, mereka berpindah dari gunung ke tepi pantai dan sekarang nama negeri ini lebih dikenal dengan nama HARUKU, namun nama aslinya HARU-UKUI masing sering digunakan sampai sekarang misalnya dalam buku karangan bapak Eliza Kissya yang berjudul kapata KEWANG HARUKU dan sasi AMAN HARUKU-UKUI atau juga dalam kegiatan KALESANG HARU-UKUI. Kelima Aman yang menjadi cikal bakal Negeri Haruku sekarang ini juga terwakili dalam ke lima SOA yang ada sekarang yaitu Soa Raja, Soa Suneth, Soa Moni, Soa Lesirohi, dan Soa Rumalesi.
Sekarang ini negeri Haruku sangat dikenal baik di Maluku, di Indonesia bahkan di dunia Internasional dengan sasi yang paling menarik dan unik yaitu SASI LOMPA, yang merupakan perpaduan antara SASI LAUT dan SASI KALI. Setiap tahun saat pembukaan SASI LOMPA, banyak orang dari berbagai tempat di Maluku,  Indonesia bahkan Manca Negara datang di Haruku untuk mengikuti acara ini.

(Cerita Rakyat Negeri Haruku)
PHILIPPA PHILOMENA QUEENSY KOSHO

Wednesday, March 11, 2015

MEMBOBOT KURIKULUM-2013, “MAJU ATAU BALIK”



MEMBOBOT KURIKULUM-2013,   “MAJU ATAU BALIK”
Perubahan paradigma pendidikan di Indonesia terus mengalami dinamika seiring kebutuhan dan perkembangan iptek. Perubahan dimaksud tercermin pada gonta-ganti kurikulum baik terhadap strukturnya, pendekatan maupun metode. Kurikulum pendidikan di Indonesia sebagaimana kita ketahui dari waktu ke waktu selalu berubah. Benarkah perubahan tersebut berdampak pada perbaikan kualitas pendidikan kita? atau  sebaliknya justru terlihat membingungkan di kalangan pelaku pendidikan? Pertanyaan ini bernada pesimis karena hampir di setiap implementasi kurikulum baru, ada daerah di Indonesia masih meraba-raba bagaimana menerapkannya atau bahkan ada yang belum sempat melaksanakannya tiba-tiba pemerintah kembali mengumumkan kurikulum lain. Yang paling mengejutkan adalah setelah hampir pemberlakuan Kurikulum 2013  secara serentak rampung di semua tingkat satuan pendidikan, muncul pernyataan baru oleh Menteri Pendidikan  Nasional memperbolehkan satuan pendidikan yang merasa belum siap menerapkan K-13 agar kembali ke KTSP 2006. Andaikan hembusan angin segar dengan embun sejuknya menyiram desah keringat para guru yang telah habis-habisan memperjuangkan “start marathon” melalui paket matrikulasi agar bisa sejajar dengan sekolah yang lebih dulu telah menerapkannya. Bersamaan dengan itu semua sekolah mulai memutuskan 2 hal :  maju” ? atau “balik” ? Keputusan terhadap salah satu opsi tersebut berdasarkan berbagai penilaian dan pertimbangan dari aspek kesiapan sumber daya manusia maupun sarana prasarananya.  Pro atau kontra adalah masalah biasa terhadap sebuah perubahan. Tentu bagaimana cara orang menilai suatu perubahan  tergantung dari sudut pandang yang berbeda.



Fungsi  kurikulum sebagai instrumen dalam mencapai tujuan pendidikan nasional berdasarkan filsafat, idiologi, maupun kebudayaan. Pertanyaan, ada apa dengan Kurikulum 2013 ?  Benarkah filosofi K-13 sejalan dengan idiologi dan budaya bangsa ini, ataukah ? filosofi yang mendasari pengembangan K-13 : (1) pendidikan berakar pada budaya bangsa yakni membangun kehidupan kekinian dan masa datang melalui pengalaman belajar, memberi kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan masa kini dan masa depannya sebagai pewaris budaya bangsa serta peduli terhadap permasalahan bangsa. (2) pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecemerlangan akademik melalui disiplin ilmu sebagai isi kurikulum dan pembelajaran disiplin ilmu (essentialism). (3) Pendidikan untuk membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik (social  reconstructivism). Aplikasi terhadap filosofi ini adalah penekanan pada keseimbangan soft skills dan hard skills sesuai hirarki jenjang pendidikan sehingga dapat menepis persepsi masyarakat bahwa pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif dan kurang berkarakter. Kompetensi inti (KI) 1 dan 2 sebagai kompetensi penggiring KI 3 dan KI 4 terasa lengkap memuat harapan kebanyakan orang  dalam rangka membentuk peserta didik menjadi insan yang cerdas intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual (IQ, EQ dan SQ).  Selain peserta didik memiliki kompetensi akademik dan keterampilan, kompetensi religi dan sosial lebih dikedepankan menjadi KI pertama dan kedua, bukan tanpa makna. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya, perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Semuanya dijadikan gaya belajar dan ”pembiasaan” (habit) sehingga diharapkan sanggup meminimalkan berbagai fenomena yang mengemuka (perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian serta dan gejolak sosial lainnya). Pola belajar dengan pendekatan saintifik (5 M) dan penilaian autentik demi menjalankan semua kompetensi inti merupakan pilihan tepat untuk diterapkan pada pembelajaran masa kini. Selain itu pergeseran paradigma “pahlawan tanpa tanda jasa” menjadi “tenaga professional”  menuntut seorang guru sanggup menentukan pilihan yang tepat tanpa mempersoalkan hadirnya sebuah perubahan sistem. 
Dengan demikian tidak ada alasan bagi pelaku dan penyelenggara pendidikan di negeri ini untuk “balik” jika benar  mencintai bangsanya dalam menyiapkan generasi yang cerdas berkarakter serta mampu bersaing secara global. Sekali lagi, “maju” atau “balik” tergantung keputusan bijak kita.

 (Oleh : Dra. NEWYENU WATNEKA, M.Si)